Oleh:
TASMIN
NIM:181050207006
Email: tasminletta@gmail.com
A. Latar Belakang
Pendidikan matematika merupakan wahana untuk
mengembangkan semua potensi yang perlu dimiliki siswa termasuk kemampuan
bernalar, kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, kebiasaan kerja keras dan
mandiri, jujur berdisiplin, memiliki sikap sosial yang baik serta berbagai
keterampilan dasar yang diperlukan dalam hidup bermasyarakat. Matematika sangat
perlu dikuasai oleh siswa secara mantap sejak duduk di Sekolah Dasar.
Pecahan merupakan bagian matematika yang erat
kaitannya dengan masalah yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Sama halnya
dengan bilangan asli, cacah, dan bulat, pecahan juga mulai diajarkan di Sekolah
Dasar namun mulai diajarkannya di kelas II semester 2 tepatnya pada tema 7
sesuai standar isi pada Kurikulum 2013. Pecahan masih banyak menjadi
permasalahan dalam pembelajarannya di Sekolah Dasar. Konsep pecahan dan operasi
merupakan konsep yang penting untuk dikuasai oleh siswa. Sesungguhnya pendidikan
berlangsung sebagai sebuah sistem yang didalamnya terdapat rangkaian proses
pembelajaran dimana siswa dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya (Muchtar
Yunus dan Muhammad Rakib, 2016). Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran harus
benar-benar bermakna terhadap siswa.
Akan tetapi menurut Muhsetyo, dkk (2004), kenyataan
di Sekolah Dasar menunjukkan bahwa banyak siswa mengalami kesulitan memahami
pecahan dan operasinya, dan banyak guru Sekolah Dasar menyatakan mengalami kesulitan
untuk mengajarkan pecahan. Para guru cenderung menggunakan cara yang
mekanistik, yaitu memberikan aturan secara langsung untuk dihafal, diingat
dan diterapkan. Pembelajaran secara mekanistik berdampak pada
ketidakbermaknaan proses belajar siswa karena matematika disajikan terpisah
dari konteks yang bisa dipahami siswa pada awal pembelajaran, sehingga konsep
matematika akan cepat dilupakan oleh siswa dan siswa pun akan sulit menerapkan
konsep tersebut.
Maka melalui tulisan ini dicoba untuk memberikan
pengenalan konsep dasar tentang pecahan kepada peserta didik Sekolah Dasar
melalui pemanfaatan benda-benda konkrit yang ada di lingkungan peserta didik.
Benda konkret yaitu benda-benda yang ada di lingkungan anak yang mempunyai
bentuk teratur. Misalnya: buah apel, kue tart, sedotan dan lain-lain.
B.
Kajian Teori
1. Model PPSI
a.
Pengertian
Model PSSI
PPSI adalah pola pengembangan pengajaran yang menggunakan pendekatan
sistem, yang mengutamakan adanya tujuan sehingga dikatakan bahwa PPSI
menggunakan pendekatan yang berorientasi pada tujuan. Istilah “sistem
instruksional” dalam PPSI menunjukkan pada pengertian sebagai suatu kesatuan
pengajaran yang terorganisasi yang terdiri atas sejumlah komponen diantaranya:
materi, metode, alat, evaluasi yang kesemuanya berinteraksi satu sama lainnya
untuk mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. PPSI merupakan
langkah-langkah pengembangan dan pelaksanaan pengajaran sebagai suatu sistem
untuk mencapai tujuan secara efisien dan efektif. (Basyiruddin, 2002)
Hamzah B. Uno (2007), mendefinisikan PPSI adalah sistem yang saling
berkaitan dari satu instruksi yang terdiri atas urutan, desain tugas yang
progresif bagi individu dalam belajar. Oemar Hamalik (2006) mendefinisikan PPSI
sebagai pedoman yang disusun oleh guru dan berguna untuk menyusun satuan
pelajaran. (Rusman.2012.48)
Konsep dari PPSI adalah suatu sistem instruksional yang menggunakan
pendekatan sistem, yaitu satu kesatuan komponen yang terorganisasi yang saling
berhubungan satu sama lain dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang
diinginkan.
Fungsi dari PPSI adalah untuk mengefektifkan perencanaan dan pelaksanaan
program pengajaran secara sistematik, untuk dijadikan sebagai pedoman bagi
pendidik dalam melaksanakan proses belajar-mengajar di kelas.
b.
Kelebihan
dan Kekurangan PPSI
Dari uraian di atas tersebut diperoleh beberapa kelebihan dan kekurang
dalam Model PPSI diantaranya, yaitu :
1.
Kelebihan PPSI
a)
Sangat tepat digunakan sebagai dasar
untuk mengembangkan perangkat pembelajaran terutama dalam pengembangan rencana
pelaksanaan pembelajaran.
b)
Uraiannya sangat lengkap dan
sistematis.
2.
Kekurangan PPSI
Memerlukan waktu, tenaga dan pikiran
yang lebih karena guru harus memberikan pretest dan post test untuk setiap unit
pelajaran.
2. Media Konkret
a.
Pengertian Media Konkret
Media konkret adalah segala sesuatu yang nyata dan dapat digunakan untuk
menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran,
perasaan, perhatian dan minat siswa sehingga proses pembelajaran dapat berjalan
lebih efektif dan efesien menuju kepada tercapainya tujuan yang diharapkan.
Media konkret merupakan alat bantu yang sangat mudah penggunaannya, karena bisa
langsung digunakan. Benda nyata sebagai media adalah alat penyampaian informasi
yang berupa benda atau obyek yang sebenarnya atau asli dan tidak mengalami
perubahan yang berarti. Sebagai obyek nyata, media konkret merupakan alat bantu
yang bisa memberikan pengalaman langsung kepada pengguna dalam hal ini adalah
siswa atau peserta didik. Oleh karena itu, media konkret banyak digunakan dalam
proses pembelajaran sebagai alat bantu untuk memperkenalkan subjek baru. Atau
memperjelas materi yang bisa dikaitkan dengan benda-benda konkrit tersebut
dengan cara memberikan pengalaman langsung kepada siswa dalam memahami materi
pelajaran.
b.
Fungsi Media Konkret
Berikut adalah fungsi media konkret yang dikemukakan oleh Mulyani Sumantri (2004:178):
1)
Alat bantu untuk mewujudkan situasi bejar
mengajar yang efektif,
2)
Bagian integral dari keseluruhan
situasi mengajar,
3)
Meletakkan dasar-dasar yang konkret
dan konsep yang abstrak sehingga dapat mengurangi pemahaman yang bersifat
verbalisme,
4)
Mengembangkan motivasi belajar
siswa,
5)
Mempertinggi mutu pembelajaran.
Adapun keuntungan penggunaan media konkret dalam proses belajara mengajar adalah
sebagai berikut:
1)
Membangkitkan ide-ide atau
gagasan-gagasan yang bersifat konseptual, sehingga mengurangi kesalahpahaman
siswa dalam mempelajarinya,
2)
Meningkatkan minat siswa untuk
mempelajari materi pelajaran,
3)
Memberikan pengalaman-pengalaman
nyata yang merangsang aktivitas diri sendiri untuk belajar,
4)
Dapat mengambangkan jalan pikiran
yang berkelanjutan,
5)
Menyediakan pengalaman- pengalaman
yang tidak mudah di dapat melalui materi-materi yang lain dan menjadikan proses
belajar mendalam dan beragam.
c.
Karakterisistik Media Konkret
Media konkrit adalah media yang paling menarik dan sangat mudah didapatkan
karena ada disekitar kita. Dengan berinteraksi langsung dengan media konkret,
diharapkan hal-hal yang kurang jelas, apabila diterangkan secara verbal akan
menjadi jelas. Media konkrit akan sangat membantu guru dalam menjelaskan materi
pelajaran, terutama materi-materi yang bersifat abstrak. Dengan media konkret,
hal-hal yang abstrak bisa menjadi lebih nyata.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan media konkret
sebagai media pembelajaran:
1)
Berikan
kesempatan yang besar kepada peserta didik agar dapat berinteraksi langsung dengan benda yang sedang dipelajari.
2)
Guru hanya
berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa mempelajari objek atau materi
yang sedang dipelajari.
3)
Berikan
siswa kesempatan untuk mencari informasi sebanyak mungkin yang berkaitan dengan
objek atau materi yang sedang
dipelajari.
4)
Hindari
hal-hal yang tidak diinginkan atau risiko yang akan dihadapi siswa pada saat
mempelajari media konkret.
3. Konsep Dasar
Pecahan
Secara umum konsep dapat diartikan sebagai nama,
istilah, pengertian, generalisasi dari sekumpulan benda, fakta, peristiwa,
gejala yang mempunyai ciri yang sama. Namun, sampai saat ini tidak ada definisi
yang tepat untuk menjelaskan pengertian dari konsep yang disepakati umum. Dalam
kamus besar Bahasa Indonesia konsep (Moeliono, 2002:588) diartikan sebagai
sesuatu yang diterima dalam pikiran atau suatu ide yang umum dan abstrak. Gagne
(Ruseffendi, 1991:97) dalam Nia menyatakan pengertian konsep dalam matematika
sebagai ide abstrak yang memungkinkan kita mengelompokkan objek-objek ke dalam
contoh dan bukan contoh.
Sedangkan pengertian konsep menurut Rosser
(Dahar, 1988:97) dalam Nia adalah sebuah abstraksi yang mewakili suatu kelas
objek-objek, kejadian-kejadian, kegiatan-kegiatan dan hubungan yang mempunyai
atribut yang sama. Kemudian Hulse, Egeth, dan Deese (Suharnan, 2005:115) dalam
Nia mendefinisikan konsep sebagai sekumpulan atau seperangkat sifat yang
dihubungkan oleh aturan-aturan tertentu. Konsep menurut Martin dan Caramazza
(Suharnan, 2005:115) didefinisikan sebagai suatu proses pengelompokkan atau
mengklasifikasikan sejumlah objek, peristiwa atau ide yang serupa menurut
sifat-sifat atau atribut nilai tertentu yang dimiliki ke dalam satu kategori.
Berdasarkan beberapa pengertian yang telah
dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa konsep adalah ide abstrak yang
digunakan untuk mengelompokkan objek-objek ke dalam contoh dan bukan contoh
yang pada umumnya dinyatakan dengan suatu istilah.
Bilangan pecahan adalah bilangan yang lambangnya
dapat ditulis dengan bentuk a/b di mana a dan b bilangan bulat dan b ≠ 0. Pada
pecahan a/b, a disebut pembilang dan b disebut penyebut pecahan tersebut. Kita
menggunakan jenis bilangan yang disebut pecahan, apabila kita membicarakan
bagian-bagian benda atau bagian-bagian himpunan atas beberapa bagian yang sama.
Oleh karena itulah, bilangan pecahan dapat
diperagakan dengan suatu bagian dari keseluruhan suatu himpunan ataupun suatu
benda. Pecahan dapat digunakan untuk menyatakan makna dari setiap bagian dari
yang utuh.
C. Penerapan Model
PPSI dalam Pembelajaran
Dalam pembelajaran penanaman konsep dasar pecahan melalaui penerapan model
PPSI, ada lima langkah pokok yang bisa kita jadikan sebagai pedoman yaitu:
Langkah 1: Merumuskan Tujuan
Pembelajaran
Dalam merumuskan tujuan instruksional yang dimaksud adalah tujuan
pembelajaran khusus, yaitu rumusan yang jelas dan operasional tentang kemampuan
atau kompetensi yang diharapkan dimiliki peserta didik setelah mengikuti suatu
program pembelajaran.
Kemampuan-kemampuan atau kompetensi tersebut harus dirumuskan secara
spesifik dan terukur sehingga dapat diamati dan dievaluasi. Tujuan instruksional
merupakan rumusan yang jelas dan terarah tentang kemampuan atau tingkah laku
yang diharapkan dapat dimiliki peserta didik setelah mengikuti suatu program
kegiatan belajar. Kemampuan atau tingkah laku tersebu terbagi kepada dua bagian
yaitu : tujuan instruksional umum disingkat dengan TIU, dan kemuadian pada
kurikulum KTSP, istilah tersebut menjadi Standar Kompetensi. Serta tujuan
instruksional khusus disingkat dengan TIK, berubah menjadi Kompetensi Dasar.
Pada kurikulum 2013 (K.13), Standar Kompotensi berubah lagi menjadi Kompotensi Inti. Sedangkan istilah Kompotensi
Dasar tidak mengalami perubahan.
Berikut adalah Kompotensi Inti yang ada di Kelas II :
1. Menerima,
menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang dianutnya.
2. Menunjukkan
perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri
dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangganya, serta cinta
tanah air.
3. Memahami
pengetahuan faktual dengan cara mengamati, dan mencoba menanya berdasarkan rasa
ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan
benda-benda yang dijumpainya di rumah, di sekolah, dan tempat bermain.
4. Menyajikan
pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas, sistematis dan logis, dan kritis
dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam
tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia.
Adapun Kompotensi Dasar (KD) pada
matematika di Tema 7 yaitu:
1. KD
3.7 Menjelaskan pecahan
menggunakan benda-benda konkret dalam
kehidupan sehari-hari.
2. KD
4.7 Menyajikan pecahan
yang bersesuaian dengan bagian dari
keseluruhan suatu benda konkret dalam kehidupan sehari-hari.
Langkah 2: Mengembangkan Alat
Evaluasi
Setelah tujuan pembelajaran dirumuskan, langkah selanjutnya adalah
mengembangkan alat evaluasi, yaitu tes yang fungsinya untuk menilai sejauh mana
peserta didik telah menguasai kemampuan atau kompetensi yang telah dirumuskan
dalam tujuan pembelajaran khusus tersebut. Langkah ini adalah pengembangan test
yang fungsinya adalah untuk menilai sampai dimana para peserta didik telah
menguasai kemampuan-kemampuan yang telah kita rumuskan dalam tujuan-tujuan
tersebut.
Dalam model PPSI berbeda dari apa yang biasanya dilakukan, pengembangan
alat evaluasi tidak dilakukan pada akhir dari kegiatan pembelajaran, tetapi
pada langkah kedua setelah tujuan pembelajaran khusus ditetapkan. Hal ini
didasarkan atas prinsip yang berorientasi pada tujuan atau hasil, yaitu
penilaian terhadap suatu sistem pembelajaran didasarkan atas hasil yang
dicapai.
Dalam mengembangkan alat evaluasi ini perlu ditentukan terlebih dahulu
jenis-jenis tes dan bentuk-bentuk tes yang akan digunakan. Apakah jenis tes
tertulis, lisan, atau tes perbuatan. Kemudian bentuk tes yang apakah pilihan
ganda (multiple choice), essai,
benar-salah atau menjodohkan. Untuk menilai sejumlah tujuan pembelajaran yang
telah ditetapkan, dapat digunakan satu jenis tes atau satu bentuk tes, atau dua
bahkan tiga jenis dan bentuk tes. Hal ini sangat bergantung pada hakikat tujuan
yang akan dicapai.
Dalam pembelajaran konsep dasar pecahan untuk kelas 2, pre test yang
digunakan berupa tes tertulis yang disusun berdasarkan indikator dari Kompotensi
Dasar pengetahuan (3.7) Menjelaskan pecahan
menggunakan benda-benda konkret dalam
kehidupan sehari-hari, dan Kompotensi Dasar Keterampilan (4.7) Menyajikan
pecahan
yang bersesuaian dengan bagian dari
keseluruhan suatu benda konkret dalam kehidupan sehari-hari.
Langkah 3: Menentukan Kegiatan
Belajar-Mengajar
Sesudah tujuan dan alat evaluasi ditetapkan, langkah selanjutnya adalah
menetapkan kegiatan belajar-mengajar, yaitu kegiatan yang harus dilakukan untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam menentukan kegiatan belajar
mengajar hal yang harus dilakukan adalah:
1.
Merumuskan semua kemungkinan
kegiatan belajar yang diperlukan untuk mencapai tujuan.
2.
Menetapkan mana dari sekian kegiatan
belajar tersebut yang perlu ditempuh dan tidak perlu ditempuh lagi oleh peserta
didik.
3.
Menetapkan kegiatan belajar yang
masih perlu dilaksanakan oleh peserta didik. Pada langkah ini sesudah kegiatan
belajar peserta didik ditetapkan, perlu dirumuskan pokok-pokok materi
pembelajaran yang akan diberikan kepada peserta didik sesuai dengan jenis
kegiatan belajar yang telah ditetapkan. Untuk menyampaikan materi yang telah
kita tetapkan, perlu dipertimbangkan metode mana yang paling tepat digunakan,
dengan mengingat kegiatan-kegiatan belajar yang telah dirumuskan dan tujuan
yang ingin dicapai.
Langkah 4: Merencanakan Program KBM
Setelah langkah satu sampai tiga telah ditetapkan, selanjutnya perlu
dimantapkan dalam suatu program pembelajaran. Titik tolak dalam merencanakan
program kegiatan pembelajaran adalah suatu pelajaran yang diambil dari
kurikulum yang telah ditetapkan jumlah jam nya dan diberikan pada kelas dalam
semester tertentu. Pada langkah ini perlu disusun strategi proses pembelajaran
dengan cara merumuskan kegiatan mengajar dan kegiatan belajar yang dirancanng
secara sistematis sesuai dengan situasi kelas. Pendekatan dan metode
pembelajaran yang akan digunakan dipilih sesuai dengan tujuan dan karakteristik
materi yang akan disampaikan. Termasuk dalam langkah ini adalah penyusunan
proses pelaksanaan evaluasi.
Ada tiga hal yang berkenaan dengan program kegiatan ini, yaitu :
a.
Merumuskan materi pelajaran.
Pokok materi dalam pembelajaran
pengenalan konsep pecahan diuraikan dengan singkat dan dilengkapi dengan
contoh-contoh agar lebih mudah dalam menyampaikan materinya kepada peserta
didik.
b.
Metode yang digunakan
Dalam proses pembelajaran konsep
pecahan akan diawali dengan metode ceramah dan kemudian dilanjutkan dengan
praktek yang dilakukan oleh peserta didik atas bimbingan guru.
c.
Menyusun jadwal
Penyusunan jadwal disini tetap berdasarkan
jadwal yang telah disusun sebelumnya.
Langkah 5: Pelaksanaan
Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam pelaksanaan program ini adalah
sebagai berikut:
a.
Mengadakan Pre Test (Tes Awal).
Fungsi tes awal
ini adalah untuk memperoleh informasi tentang kemampuan awal kemampuan peserta
didik sebelum mereka mengikuti program pembelajaran yang telah disiapkan.
Apabila peserta didik telah menguasai kemampuan yang tercantum dalam tujuan
pembelajaran yang ingin dicapai, maka hal itu tidak perlu diberikan lagi oleh
pengajar dalam program pembelajaran yang akan diberikan.
Pada
pembelajaran pengenalan konsep pecahan, peserta didik diberikan pre test berupa
tes tulis yang telah dibuat oleh guru sebelumnya.
b.
Menyampaikan Materi Pelajaran
Pada
prinsipnya, penyampaian materi pelajaran harus berpegang pada rencana yang
telah disusun dalam langkah keempat, yaitu “Merencanakan KBM”, baik dalam
materi, metode, maupun alat yang akan digunakan. Penyampaian materi dalam
pembelajaran penanaman konsep pecahan diawali oleh guru dengan menyampaikan
tujuan pembelajaran dan kompotensi yang harus dicapai agar siswa mengetahui
kemampuan-kemampuan yang diharapkan setelah selesai pelajaran. Kemudian
dilanjutkan dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan pembagian
secara nyata dari benda-benda konkret yang mereka bawa sendiri dari rumah,
seperti kue yang dipotong-potong menjadi beberapa bagian sehingga menghasilkan
pecahan. Begitu pun dengan buah-buahan yang mereka kelompokkan dari satu tempat
besar ke dalam beberapa tempat kecil yang disiapkan berdasarkan pecahan yang
diinginkan.
c.
Mengadakan Post Test
Post test
diberikan kepada peserta didik setelah mengikuti program pembelajaran. Tes yang
diberikan identik dengan yang diberikan pada tes awal, perbedaannya terletak
pada waktu dan fungsinya. Kemudian hasil pre test dan post test itu
diperbandingkan.
Pre test berfungsi untuk menilai
kemampuan awal peserta didik mengenai materi pelajaran sebelum pembelajaran
diberikan, sedangkan post test berfungsi untuk menilai kemampuan peserta didik
mengenai penguasaan materi pelajaran setelah pembelajaran dilaksanakan. Dengan
demikian, dapat diketahui seberapa jauh keberhasilan program pembelajaran yang
telah dilakukan dalam rangka mencapai tujuan atau kompetensi yang telah
ditetapkan.
D. Kesimpulan
PPSI merupakan model pembelajaran kurikulum 1975 yang berorientasi pada
tujuan pembelajaran. Model PPSI sangat bagus digunakan untuk mengembangkan
perangkat pembelajaran. Fungsi dari PPSI ini adalah untuk mengefektifkan pembelajaran.
Untuk mencapai tujuan pembelajaran dalam pengembangan model pembelajaran
PPSI, kita perlu memperhatikan lima langkah berikut ini:
1.
Merumuskan Tujuan Pembelajaran (menggunakan
istilah yang operasional, berbentuk hasil belajar, berbentuk tingkah laku dan
hanya ada satu kemampuan/tujuan)
2.
Pengembangan Alat Evaluasi
(menentukan jenis tes yang akan digunakan, menyusun item soal untuk setiap
tujuan)
3.
Menentukan Kegiatan Belajar Mengajar
(merumuskan semua kemungkinan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan,
menetapkan kegiatan pembelajaran yang akan ditempuh)
4.
Merencanakan Progam Kegiatan Belajar
Mengajar (merumuskan materi pelajaran, menetapkan metode yang digunakan,
memilih alat dan sumber yang digunakan dan menyusun progam kegiatan/jadwal)
5.
Pelaksanaan (mengadakan pretest,
menyampaikan materi pelajaran, mengadakan posttest dan revisi)
DAFTAR PUSTAKA
Hamalik, Oemar.
(2006). Perencanaan Pengajaran
Berdasarkan Pendekatan Sistem. Jakarta : Bumi Aksara.
Kania, Nia. (2018). Alat Peraga untuk Memahami Konsep Pecahan.
THEOREMS (The Original Research of Mathematics) Vol. 2 No. 2. Diakses pada : 21
April 2019. jurnal.unma.ac.id/index.php/th/article/download/699/647
Purnomosidi. (2007). Kebersamaan. Buku Guru SD/MI Kelas II. Jakarta : Pusat
Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud
Rusdi, Andi. (2008). Model
Pengembangan Perangkat Pembelajaran. Diakses pada: 06 April
2019. https://anrusmath.wordpress.com/2008/08/16/ pengembangan/
Samana. (1982). Prosedur
Pengembangan Sistem Instruksional. Yogyakarta : IKIP Sanata Dharma.
Tahulending, Hastuti. (2014).
Model pembelajaran PPSI. Diakses pada
: 06 April 2019. https://tugas2kampus.wordpress.com/2014/07/21/model-pembelajaran-ppsi/
Uno, Hamzah B. (2007). Perencanaan Pembelajaran. Jakarta : Bumi
Aksara.
Yunus, M. & Rakib, M.
(2016). Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis e-Learning
pada Mata Pelajaran Ekonomi di SMA. Jurnal Penelitian Pendidikan
Insani. 19. 63-128.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar