#Label1 .widget-content{ height:200px; width:auto; overflow:auto; } PENERAPAN MODEL PROSEDUR PENGEMBANGAN SISTEM INSTRUKSIONAL (PPSI) MELALUI PEMANFAATAN MEDIA KONKRIT DALAM PENGENALAN KONSEP DASAR PECAHAN DI SEKOLAH DASAR

Kamis, 16 Mei 2019

PENERAPAN MODEL PROSEDUR PENGEMBANGAN SISTEM INSTRUKSIONAL (PPSI) MELALUI PEMANFAATAN MEDIA KONKRIT DALAM PENGENALAN KONSEP DASAR PECAHAN DI SEKOLAH DASAR


Oleh:

TASMIN
NIM:181050207006
Email: tasminletta@gmail.com

A.      Latar Belakang
Pendidikan matematika merupakan wahana untuk mengembangkan semua potensi yang perlu dimiliki siswa termasuk kemampuan bernalar, kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, kebiasaan kerja keras dan mandiri, jujur berdisiplin, memiliki sikap sosial yang baik serta berbagai keterampilan dasar yang diperlukan dalam hidup bermasyarakat. Matematika sangat
perlu dikuasai oleh siswa secara mantap sejak duduk di Sekolah Dasar.
Pecahan merupakan bagian matematika yang erat kaitannya dengan masalah yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Sama halnya dengan bilangan asli, cacah, dan bulat, pecahan juga mulai diajarkan di Sekolah Dasar namun mulai diajarkannya di kelas II semester 2 tepatnya pada tema 7 sesuai standar isi pada Kurikulum 2013. Pecahan masih banyak menjadi permasalahan dalam pembelajarannya di Sekolah Dasar. Konsep pecahan dan operasi merupakan konsep yang penting untuk dikuasai oleh siswa. Sesungguhnya pendidikan berlangsung sebagai sebuah sistem yang didalamnya terdapat rangkaian proses pembelajaran dimana siswa dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya (Muchtar Yunus dan Muhammad Rakib, 2016). Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran harus benar-benar bermakna terhadap siswa.
Akan tetapi menurut Muhsetyo, dkk (2004), kenyataan di Sekolah Dasar menunjukkan bahwa banyak siswa mengalami kesulitan memahami pecahan dan operasinya, dan banyak guru Sekolah Dasar menyatakan mengalami kesulitan untuk mengajarkan pecahan. Para guru cenderung menggunakan cara yang mekanistik, yaitu memberikan aturan secara langsung untuk dihafal, diingat dan  diterapkan. Pembelajaran secara mekanistik berdampak pada ketidakbermaknaan proses belajar siswa karena matematika disajikan terpisah dari konteks yang bisa dipahami siswa pada awal pembelajaran, sehingga konsep matematika akan cepat dilupakan oleh siswa dan siswa pun akan sulit menerapkan konsep tersebut.
Maka melalui tulisan ini dicoba untuk memberikan pengenalan konsep dasar tentang pecahan kepada peserta didik Sekolah Dasar melalui pemanfaatan benda-benda konkrit yang ada di lingkungan peserta didik. Benda konkret yaitu benda-benda yang ada di lingkungan anak yang mempunyai bentuk teratur. Misalnya: buah apel, kue tart, sedotan dan lain-lain.
B.       Kajian Teori
1.    Model PPSI
a.              Pengertian Model PSSI
PPSI adalah pola pengembangan pengajaran yang menggunakan pendekatan sistem, yang mengutamakan adanya tujuan sehingga dikatakan bahwa PPSI menggunakan pendekatan yang berorientasi pada tujuan. Istilah “sistem instruksional” dalam PPSI menunjukkan pada pengertian sebagai suatu kesatuan pengajaran yang terorganisasi yang terdiri atas sejumlah komponen diantaranya: materi, metode, alat, evaluasi yang kesemuanya berinteraksi satu sama lainnya untuk mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. PPSI merupakan langkah-langkah pengembangan dan pelaksanaan pengajaran sebagai suatu sistem untuk mencapai tujuan secara efisien dan efektif. (Basyiruddin, 2002)
Hamzah B. Uno (2007), mendefinisikan PPSI adalah sistem yang saling berkaitan dari satu instruksi yang terdiri atas urutan, desain tugas yang progresif bagi individu dalam belajar. Oemar Hamalik (2006) mendefinisikan PPSI sebagai pedoman yang disusun oleh guru dan berguna untuk menyusun satuan pelajaran. (Rusman.2012.48)
Konsep dari PPSI adalah suatu sistem instruksional yang menggunakan pendekatan sistem, yaitu satu kesatuan komponen yang terorganisasi yang saling berhubungan satu sama lain dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.
Fungsi dari PPSI adalah untuk mengefektifkan perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran secara sistematik, untuk dijadikan sebagai pedoman bagi pendidik dalam melaksanakan proses belajar-mengajar di kelas.


b.             Kelebihan dan Kekurangan PPSI
Dari uraian di atas tersebut diperoleh beberapa kelebihan dan kekurang dalam Model PPSI diantaranya, yaitu :
1.        Kelebihan PPSI
a)      Sangat tepat digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan perangkat pembelajaran terutama dalam pengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran.
b)      Uraiannya sangat lengkap dan sistematis.
2.        Kekurangan PPSI
Memerlukan waktu, tenaga dan pikiran yang lebih karena guru harus memberikan pretest dan post test untuk setiap unit pelajaran.
2.    Media Konkret
a.    Pengertian Media Konkret
Media konkret adalah segala sesuatu yang nyata dan dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa sehingga proses pembelajaran dapat berjalan lebih efektif dan efesien menuju kepada tercapainya tujuan yang diharapkan.
Media konkret merupakan alat bantu yang sangat mudah penggunaannya, karena bisa langsung digunakan. Benda nyata sebagai media adalah alat penyampaian informasi yang berupa benda atau obyek yang sebenarnya atau asli dan tidak mengalami perubahan yang berarti. Sebagai obyek nyata, media konkret merupakan alat bantu yang bisa memberikan pengalaman langsung kepada pengguna dalam hal ini adalah siswa atau peserta didik. Oleh karena itu, media konkret banyak digunakan dalam proses pembelajaran sebagai alat bantu untuk memperkenalkan subjek baru. Atau memperjelas materi yang bisa dikaitkan dengan benda-benda konkrit tersebut dengan cara memberikan pengalaman langsung kepada siswa dalam memahami materi pelajaran.

b.        Fungsi Media Konkret
Berikut adalah fungsi media konkret yang dikemukakan oleh Mulyani Sumantri  (2004:178):
1)    Alat bantu untuk mewujudkan situasi bejar mengajar yang efektif,
2)   Bagian integral dari keseluruhan situasi mengajar,
3)   Meletakkan dasar-dasar yang konkret dan konsep yang abstrak sehingga dapat mengurangi pemahaman yang bersifat verbalisme,
4)   Mengembangkan motivasi belajar siswa,
5)   Mempertinggi mutu pembelajaran.
Adapun keuntungan penggunaan media konkret dalam proses belajara mengajar adalah sebagai berikut:
1)        Membangkitkan ide-ide atau gagasan-gagasan yang bersifat konseptual, sehingga mengurangi kesalahpahaman siswa dalam mempelajarinya,
2)        Meningkatkan minat siswa untuk mempelajari materi pelajaran,
3)        Memberikan pengalaman-pengalaman nyata yang merangsang aktivitas diri sendiri untuk belajar,
4)        Dapat mengambangkan jalan pikiran yang berkelanjutan,
5)        Menyediakan pengalaman- pengalaman yang tidak mudah di dapat melalui materi-materi yang lain dan menjadikan proses belajar mendalam dan beragam.

c.         Karakterisistik Media Konkret
Media konkrit adalah media yang paling menarik dan sangat mudah didapatkan karena ada disekitar kita. Dengan berinteraksi langsung dengan media konkret, diharapkan hal-hal yang kurang jelas, apabila diterangkan secara verbal akan menjadi jelas. Media konkrit akan sangat membantu guru dalam menjelaskan materi pelajaran, terutama materi-materi yang bersifat abstrak. Dengan media konkret, hal-hal yang abstrak bisa menjadi lebih nyata.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan media konkret sebagai media pembelajaran:
1)        Berikan kesempatan yang besar kepada peserta didik agar dapat berinteraksi langsung dengan  benda yang sedang dipelajari.
2)        Guru hanya berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa mempelajari objek atau materi yang sedang dipelajari.
3)        Berikan siswa kesempatan untuk mencari informasi sebanyak mungkin yang berkaitan dengan objek atau materi yang sedang dipelajari.
4)        Hindari hal-hal yang tidak diinginkan atau risiko yang akan dihadapi siswa pada saat mempelajari media konkret.

3.    Konsep Dasar Pecahan
Secara umum konsep dapat diartikan sebagai nama, istilah, pengertian, generalisasi dari sekumpulan benda, fakta, peristiwa, gejala yang mempunyai ciri yang sama. Namun, sampai saat ini tidak ada definisi yang tepat untuk menjelaskan pengertian dari konsep yang disepakati umum. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia konsep (Moeliono, 2002:588) diartikan sebagai sesuatu yang diterima dalam pikiran atau suatu ide yang umum dan abstrak. Gagne (Ruseffendi, 1991:97) dalam Nia menyatakan pengertian konsep dalam matematika sebagai ide abstrak yang memungkinkan kita mengelompokkan objek-objek ke dalam contoh dan bukan contoh.
Sedangkan pengertian konsep menurut Rosser (Dahar, 1988:97) dalam Nia adalah sebuah abstraksi yang mewakili suatu kelas objek-objek, kejadian-kejadian, kegiatan-kegiatan dan hubungan yang mempunyai atribut yang sama. Kemudian Hulse, Egeth, dan Deese (Suharnan, 2005:115) dalam Nia mendefinisikan konsep sebagai sekumpulan atau seperangkat sifat yang dihubungkan oleh aturan-aturan tertentu. Konsep menurut Martin dan Caramazza (Suharnan, 2005:115) didefinisikan sebagai suatu proses pengelompokkan atau mengklasifikasikan sejumlah objek, peristiwa atau ide yang serupa menurut sifat-sifat atau atribut nilai tertentu yang dimiliki ke dalam satu kategori.
Berdasarkan beberapa pengertian yang telah dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa konsep adalah ide abstrak yang digunakan untuk mengelompokkan objek-objek ke dalam contoh dan bukan contoh yang pada umumnya dinyatakan dengan suatu istilah.
Bilangan pecahan adalah bilangan yang lambangnya dapat ditulis dengan bentuk a/b di mana a dan b bilangan bulat dan b ≠ 0. Pada pecahan a/b, a disebut pembilang dan b disebut penyebut pecahan tersebut. Kita menggunakan jenis bilangan yang disebut pecahan, apabila kita membicarakan bagian-bagian benda atau bagian-bagian himpunan atas beberapa bagian yang sama.
Oleh karena itulah, bilangan pecahan dapat diperagakan dengan suatu bagian dari keseluruhan suatu himpunan ataupun suatu benda. Pecahan dapat digunakan untuk menyatakan makna dari setiap bagian dari yang utuh.
C.      Penerapan Model PPSI dalam Pembelajaran
Dalam pembelajaran penanaman konsep dasar pecahan melalaui penerapan model PPSI, ada lima langkah pokok yang bisa kita jadikan sebagai pedoman yaitu:
Langkah 1: Merumuskan Tujuan Pembelajaran
Dalam merumuskan tujuan instruksional yang dimaksud adalah tujuan pembelajaran khusus, yaitu rumusan yang jelas dan operasional tentang kemampuan atau kompetensi yang diharapkan dimiliki peserta didik setelah mengikuti suatu program pembelajaran.
Kemampuan-kemampuan atau kompetensi tersebut harus dirumuskan secara spesifik dan terukur sehingga dapat diamati dan dievaluasi. Tujuan instruksional merupakan rumusan yang jelas dan terarah tentang kemampuan atau tingkah laku yang diharapkan dapat dimiliki peserta didik setelah mengikuti suatu program kegiatan belajar. Kemampuan atau tingkah laku tersebu terbagi kepada dua bagian yaitu : tujuan instruksional umum disingkat dengan TIU, dan kemuadian pada kurikulum KTSP, istilah tersebut menjadi Standar Kompetensi. Serta tujuan instruksional khusus disingkat dengan TIK, berubah menjadi Kompetensi Dasar. Pada kurikulum 2013 (K.13), Standar Kompotensi berubah lagi menjadi  Kompotensi Inti. Sedangkan istilah Kompotensi Dasar tidak mengalami perubahan.
Berikut adalah Kompotensi Inti yang ada di Kelas II :
1.      Menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang dianutnya.
2.      Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangganya, serta cinta tanah air.
3.      Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati, dan mencoba menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, di sekolah, dan tempat bermain.
4.      Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas, sistematis dan logis, dan kritis dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia.
Adapun Kompotensi Dasar (KD) pada matematika di Tema 7 yaitu:
1.      KD 3.7 Menjelaskan pecahan   menggunakan benda-benda konkret dalam kehidupan sehari-hari.
2.      KD 4.7 Menyajikan pecahan   yang bersesuaian dengan bagian dari keseluruhan suatu benda konkret dalam kehidupan sehari-hari.
Langkah 2: Mengembangkan Alat Evaluasi
Setelah tujuan pembelajaran dirumuskan, langkah selanjutnya adalah mengembangkan alat evaluasi, yaitu tes yang fungsinya untuk menilai sejauh mana peserta didik telah menguasai kemampuan atau kompetensi yang telah dirumuskan dalam tujuan pembelajaran khusus tersebut. Langkah ini adalah pengembangan test yang fungsinya adalah untuk menilai sampai dimana para peserta didik telah menguasai kemampuan-kemampuan yang telah kita rumuskan dalam tujuan-tujuan tersebut.
Dalam model PPSI berbeda dari apa yang biasanya dilakukan, pengembangan alat evaluasi tidak dilakukan pada akhir dari kegiatan pembelajaran, tetapi pada langkah kedua setelah tujuan pembelajaran khusus ditetapkan. Hal ini didasarkan atas prinsip yang berorientasi pada tujuan atau hasil, yaitu penilaian terhadap suatu sistem pembelajaran didasarkan atas hasil yang dicapai.
Dalam mengembangkan alat evaluasi ini perlu ditentukan terlebih dahulu jenis-jenis tes dan bentuk-bentuk tes yang akan digunakan. Apakah jenis tes tertulis, lisan, atau tes perbuatan. Kemudian bentuk tes yang apakah pilihan ganda (multiple choice), essai, benar-salah atau menjodohkan. Untuk menilai sejumlah tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan, dapat digunakan satu jenis tes atau satu bentuk tes, atau dua bahkan tiga jenis dan bentuk tes. Hal ini sangat bergantung pada hakikat tujuan yang akan dicapai.
Dalam pembelajaran konsep dasar pecahan untuk kelas 2, pre test yang digunakan berupa tes tertulis yang disusun berdasarkan indikator dari Kompotensi Dasar pengetahuan (3.7) Menjelaskan pecahan   menggunakan benda-benda konkret dalam kehidupan sehari-hari, dan Kompotensi Dasar Keterampilan (4.7) Menyajikan pecahan   yang bersesuaian dengan bagian dari keseluruhan suatu benda konkret dalam kehidupan sehari-hari.
Langkah 3: Menentukan Kegiatan Belajar-Mengajar
Sesudah tujuan dan alat evaluasi ditetapkan, langkah selanjutnya adalah menetapkan kegiatan belajar-mengajar, yaitu kegiatan yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam menentukan kegiatan belajar mengajar hal yang harus dilakukan adalah:
1.        Merumuskan semua kemungkinan kegiatan belajar yang diperlukan untuk mencapai tujuan.
2.        Menetapkan mana dari sekian kegiatan belajar tersebut yang perlu ditempuh dan tidak perlu ditempuh lagi oleh peserta didik.
3.        Menetapkan kegiatan belajar yang masih perlu dilaksanakan oleh peserta didik. Pada langkah ini sesudah kegiatan belajar peserta didik ditetapkan, perlu dirumuskan pokok-pokok materi pembelajaran yang akan diberikan kepada peserta didik sesuai dengan jenis kegiatan belajar yang telah ditetapkan. Untuk menyampaikan materi yang telah kita tetapkan, perlu dipertimbangkan metode mana yang paling tepat digunakan, dengan mengingat kegiatan-kegiatan belajar yang telah dirumuskan dan tujuan yang ingin dicapai.
Langkah 4: Merencanakan Program KBM
Setelah langkah satu sampai tiga telah ditetapkan, selanjutnya perlu dimantapkan dalam suatu program pembelajaran. Titik tolak dalam merencanakan program kegiatan pembelajaran adalah suatu pelajaran yang diambil dari kurikulum yang telah ditetapkan jumlah jam nya dan diberikan pada kelas dalam semester tertentu. Pada langkah ini perlu disusun strategi proses pembelajaran dengan cara merumuskan kegiatan mengajar dan kegiatan belajar yang dirancanng secara sistematis sesuai dengan situasi kelas. Pendekatan dan metode pembelajaran yang akan digunakan dipilih sesuai dengan tujuan dan karakteristik materi yang akan disampaikan. Termasuk dalam langkah ini adalah penyusunan proses pelaksanaan evaluasi.
Ada tiga hal yang berkenaan dengan program kegiatan ini, yaitu :
a.         Merumuskan materi pelajaran.
Pokok materi dalam pembelajaran pengenalan konsep pecahan diuraikan dengan singkat dan dilengkapi dengan contoh-contoh agar lebih mudah dalam menyampaikan materinya kepada peserta didik.
b.        Metode yang digunakan
Dalam proses pembelajaran konsep pecahan akan diawali dengan metode ceramah dan kemudian dilanjutkan dengan praktek yang dilakukan oleh peserta didik atas bimbingan guru.
c.         Menyusun jadwal
Penyusunan jadwal disini tetap berdasarkan jadwal yang telah disusun sebelumnya.
Langkah 5: Pelaksanaan
Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam pelaksanaan program ini adalah sebagai berikut:
a.       Mengadakan Pre Test (Tes Awal).
Fungsi tes awal ini adalah untuk memperoleh informasi tentang kemampuan awal kemampuan peserta didik sebelum mereka mengikuti program pembelajaran yang telah disiapkan. Apabila peserta didik telah menguasai kemampuan yang tercantum dalam tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, maka hal itu tidak perlu diberikan lagi oleh pengajar dalam program pembelajaran yang akan diberikan.
Pada pembelajaran pengenalan konsep pecahan, peserta didik diberikan pre test berupa tes tulis yang telah dibuat oleh guru sebelumnya.


b.      Menyampaikan Materi Pelajaran
Pada prinsipnya, penyampaian materi pelajaran harus berpegang pada rencana yang telah disusun dalam langkah keempat, yaitu “Merencanakan KBM”, baik dalam materi, metode, maupun alat yang akan digunakan. Penyampaian materi dalam pembelajaran penanaman konsep pecahan diawali oleh guru dengan menyampaikan tujuan pembelajaran dan kompotensi yang harus dicapai agar siswa mengetahui kemampuan-kemampuan yang diharapkan setelah selesai pelajaran. Kemudian dilanjutkan dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan pembagian secara nyata dari benda-benda konkret yang mereka bawa sendiri dari rumah, seperti kue yang dipotong-potong menjadi beberapa bagian sehingga menghasilkan pecahan. Begitu pun dengan buah-buahan yang mereka kelompokkan dari satu tempat besar ke dalam beberapa tempat kecil yang disiapkan berdasarkan pecahan yang diinginkan.
c.       Mengadakan Post Test
Post test diberikan kepada peserta didik setelah mengikuti program pembelajaran. Tes yang diberikan identik dengan yang diberikan pada tes awal, perbedaannya terletak pada waktu dan fungsinya. Kemudian hasil pre test dan post test itu diperbandingkan.
Pre test berfungsi untuk menilai kemampuan awal peserta didik mengenai materi pelajaran sebelum pembelajaran diberikan, sedangkan post test berfungsi untuk menilai kemampuan peserta didik mengenai penguasaan materi pelajaran setelah pembelajaran dilaksanakan. Dengan demikian, dapat diketahui seberapa jauh keberhasilan program pembelajaran yang telah dilakukan dalam rangka mencapai tujuan atau kompetensi yang telah ditetapkan.
D.      Kesimpulan
PPSI merupakan model pembelajaran kurikulum 1975 yang berorientasi pada tujuan pembelajaran. Model PPSI sangat bagus digunakan untuk mengembangkan perangkat pembelajaran. Fungsi dari PPSI ini adalah untuk mengefektifkan pembelajaran.
Untuk mencapai tujuan pembelajaran dalam pengembangan model pembelajaran PPSI, kita perlu memperhatikan lima langkah berikut ini:
1.         Merumuskan Tujuan Pembelajaran (menggunakan istilah yang operasional, berbentuk hasil belajar, berbentuk tingkah laku dan hanya ada satu kemampuan/tujuan)
2.        Pengembangan Alat Evaluasi (menentukan jenis tes yang akan digunakan, menyusun item soal untuk setiap tujuan)
3.        Menentukan Kegiatan Belajar Mengajar (merumuskan semua kemungkinan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan, menetapkan kegiatan pembelajaran yang akan ditempuh)
4.        Merencanakan Progam Kegiatan Belajar Mengajar (merumuskan materi pelajaran, menetapkan metode yang digunakan, memilih alat dan sumber yang digunakan dan menyusun progam kegiatan/jadwal)
5.        Pelaksanaan (mengadakan pretest, menyampaikan materi pelajaran, mengadakan posttest dan revisi)



DAFTAR PUSTAKA
Hamalik, Oemar. (2006). Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Jakarta : Bumi Aksara.
Kania, Nia. (2018). Alat Peraga untuk Memahami Konsep Pecahan. THEOREMS (The Original Research of Mathematics) Vol. 2 No. 2. Diakses pada : 21 April 2019. jurnal.unma.ac.id/index.php/th/article/download/699/647
 Purnomosidi. (2007). Kebersamaan. Buku Guru SD/MI Kelas II. Jakarta : Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud
Rusdi, Andi. (2008). Model Pengembangan Perangkat Pembelajaran. Diakses pada: 06 April 2019. https://anrusmath.wordpress.com/2008/08/16/ pengembangan/
Samana. (1982). Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional. Yogyakarta : IKIP Sanata Dharma.
Tahulending, Hastuti. (2014). Model pembelajaran PPSI. Diakses pada : 06 April 2019. https://tugas2kampus.wordpress.com/2014/07/21/model-pembelajaran-ppsi/
Uno, Hamzah B. (2007). Perencanaan Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara.
Yunus, M. & Rakib, M. (2016). Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis e-Learning pada Mata Pelajaran Ekonomi di SMA. Jurnal Penelitian Pendidikan Insani. 19. 63-128. 

Tidak ada komentar :

Posting Komentar